Jumat, 06 Februari 2009

Ta'lim

BAB I
PENDAHULUAN




Semua akademisi sepakat bahwa ilmu Tafsir Al-Qur’an adalah disiplin ilmu tertua dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam. Ilmu ini lahir sejak zaman Rasulullah SAW dan terus berkembang sampai sekarang. Kelahiran ilmu ini tentu tidak lepas dari kebutuhan ummat untuk memahami maksud ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab-Nya yang mulia. Bahasa Al-Qur’an nan sangat bermutu tinggi, tak ada manusia bahkan jin yang mampu menandinginya, memerlukan pemahaman-pemahaman yang mendalam agar manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi tidak tersesat.
Tidak jarang karena perkembangan zaman, penafsiran seseorang atau sekelompok ummat terhadap Al-Qur’an berbeda dengan penafsiran generasi terdahulu dan individu atau kelompok ummat lainnya. Hal ini membuktikan betapa agungnya kekuasaan Allah SWT, Dzat Pemilik Segala Ilmu, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Penggenggam Rahasia Bumi dan Langit.
Salah satu imbas dari perkembangan ilmu tafsir pada masa kini adalah mulai dirintisnya cabang ilmu tafsir yang berfokus pada penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan. Cabang ilmu tafsir yang mulai dirintis untuk dikembangkan secara akademis-ilmiah ini dinamakan Tafsir Tarbawi yang akan memperkaya cabang-cabang ilmu tafsir yang telah ada.
Terminologi pendidikan dan pengajaran dalam al-Qur’an menurut Tafsir Tarbawi di antaranya terdiri dari: tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan tazkiyah. Dari kesemua terminologi tersebut, ta’lim lebih berkonotasi pada proses pengajaran ilmu pengetahuan bersifat rasional. Dalam al-Qur’an sendiri terdapat banyak ayat-ayat yang menggugah ummat untuk senantiasa berfikir, menggunakan kemampuan rasionya.

BAB II
PEMBAHASAN




A. PENGERTIAN TA’LIM

Kata تَعْلِيْمُ ditinjau dari asal-usulnya merupakan bentuk mashdar dari kata علََّمَ yang kata dasarnya علَِمَ mempunyai arti “mengetahui”. Kata عَلِمَ dapat berubah bentuk menjadi أَعْلَمَ dan عَلَّمَ yang berarti proses transformasi ilmu. Perbedaannya, أَعْلَمَ yang bermashdar إِعْلََامَ secara spesifik menjelaskan adanya transformasi informasi secara sepintas, sedang عَلَمَ yang mashdarnya تَعَلُّم menunjukkan proses yang rutin dan terus-menerus serta danya upaya yang luas cakupannya sehingga dapat memberi pengaruh pada muta’allim (orang yang belajar).
Perubahan bentuk dari kata علم menjadi عَلَّمَ yang mendapat tambahan tasydid mengandung dua arti:
a. Kata عَلََّمَ dari kata dasar عَََلَمَََ berarti menjadikan sesuatu mempunyai tanda atau identitas untuk dikenali, أَعْلَمَ = menjadikan identitas di atas sesuatu.
b. Kata عَلََّمَ dari kata dasar عََِلَمَََ berarti pencapaian pengetahuan yang sebenarnya, jika berubah menjadi عََلََّمَََ berarti menjadikan orang lain yang tidak mengetahui menjadi tahu.
Bentuk علم yang berubah menjadi عََلََّمَََ (berimbuhan tasydid) terulang sebanyak 34 kali dalam Al-Qur’an. Terdapat pula bentuk تَعَلُّم sebanyak dua kali, yang mayoritas dipakai oleh Allah.

B. TAFSIR AYAT
1. Q.S. Al-Baqarah: 31-32

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar-benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab,"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Makna Ijmaly
Kedua ayat di atas turun sebagai penghibur dan membesarkan jiwa Nabi Muhammad SAW atas kekecewaan dari sikap ummatnya dengan menandaskan Nabi agar melihat apa yang terjadi dengan pada diri bapak ummat manusia, Adam ‘Alaihissalaam.
Kedua ayat ini berkaitan erat dengan peristiwa penciptaan Adam dan pengangkatannya menjadi khalifah Allah di muka bumi yang diwarnai oleh kontroversi dari malaikat.

Makna Tafshily
Ayat 31: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.
Pengajaran Tuhan kepada Adam atas nama-nama benda, menunjukkan kesiapan manusia atas potensinya untuk mengetahui rahasia-rahasia yang ada di bumi, untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam memenuhi hajat dan kemakmuran hidupnya.
Lanjutannya: kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (31) “Mereka menjawab, "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (32).
Perintah kepada malaikat agar menyebutkan nama-nama benda sebagaimana yang akan disebutkan oleh Adam menggambarkan bahwa setiap makhluk di alam ini mempunyai potensi, tetapi potensi tersebut terbatas pada proporsi dan wilayahnya masing-masing.

2. Q.S. Al-Baqarah: 129

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Makna
Ayat di atas adalah salah satu do’a dari rangkaian do’a-do’a yang dipanjatkan Nabi Ibrahim takkala mempertinggi pondasi Ka’bah bersama putranya, Isma’il ‘Alaihimassalaam. Dalam do’a-do’anya itu Nabi Ibrahim dengan tegas memohon kepada Allah supaya Makkah aman sentosa dan penduduknya yang beriman mendapat rizqi yang baik dan makanan yang cukup.
Agar penduduk Makkah senantiasa beriman, Nabi Ibrahim memohon kiranya Allah mengutus bagi mereka kelak seorang rasul yang akan membacakan kepada mereka wahyu dari-Nya dan mengajarkan kebijaksanaan atau pemahaman mengenai wahyu tersebut. Sehingga, kesucian hati mereka tetap terjaga, jauh dari kemaksiatan apalagi kemusyrikan.

3. Q.S. Al-Baqarah: 251

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

Makna
Ayat ini berkisah tentang masa ketika Bani Israil di bawah kepemimpinan Raja Thalut, seorang raja yang bersifat sabar dan teguh hati. Suatu saat, Bani Israil akan berperang dengan pasukan Raja Jalut. Sebelum berangkat, Raja Thalut memberikan nasehat bagi pasukannya agar selalu memperkuat keyakinan akan kesucian perjuangan mereka serta melarang pasukannya itu meminum air sungai yang mereka lewati, kecuali seperlunya saja. Larangan ini diberlakukan untuk menguji siapakah golongan yang setia dan taat pada komando sang pemimpin atau golongan yang membangkang. Sebab, dengan kesetiaan dan kataatan pada komando raja-lah, pasukan dapat memenangkan peperangan melawan Jalut.
Di antara pasukan Jalut, terdapat seorang manusia yang secara fisik tidak sebanding melawan Jalut, tetapi atas izin Allah berhasil mengalahkannya. Dialah Nabi Daud ‘Alaihissalaam.
Setelah berhasil mengalahkan Jalut, Daud ‘Alaihissalaam dikarunia oleh Allah kekuasaan menjadi raja selanjutnya dan beberapa hikmah atau pengetahuan. Beberapa pengetahuan itu adalah: kepandaian membuat baju besi sebagai peralatan perang, kemahiran menabuh kecapi, dan suara merdu yang digunakan untuk mendendangkan nama Allah.
Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas, di antaranya ialah: seseorang, meskipun ia lemah, baik lemah fisik, ekonomi, dan intelektual harus mempunyai semangat bertahan hidup (struggle for life) jika masih ingin memiliki kehidupan yang berarti. Di samping itu, dengan rahmat-Nya, Allah menetapkan hukum keseimbangan kekuatan antar-ummat manusia. Keseimbangan kekuatan ini penting artinya karena bila tak ada keseimbangan kekuatan, niscaya musnahlah ummat manusia akibat keganasan segolongan ummat manusia lainnya.

4. Q.S. An-Nisa’: 113

“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”

Makna
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, memalingkan hamba-hamba-Nya dari godaaan setan yang menghembuskan aneka macam sifat dan perbuatan jahat lagi tamak, baik dari golongan jin maupun manusia melalui Kitab dan Hikmah yang duturunkan melalui paran nabi/rasul.
Kitab yang dimaksud, menurut para ahli tafsir adalah Al-Qur’an, kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wassalam. Sedangkan Al-Hikmah merupakan pemahaman terhadap makna Al-Qur’an tersebut. Al-Hikmah sekaligus memiliki fungsi pengajaran isi-isi Al-Kitab terutama dalam bidang syari’at. Dengan pengajaran melalui Al-Hikmah, seseorang yang sebelumnya belum mengetahui hukum sesuatu bisa menjadi tahu. Dan, inilah esensi dari pembelajaran atau pendidikan.
Secara khusus, HAMKA menulis bahwa ayat ini berkaitan dengan persengketaan dari kaum Yahudi. Sehingga yang dimaksud segolongan orang yang berkeingnan keras untuk menyesatkan orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi. Wallahu A’lam.

5. Q.S. Al-Kahfi: 65

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

Makna
Alkisah, tak kala Musa telah mendapat kemenangan atas Mesir, maka Allah memerintahkannya mengingatkan kaumnya akan nikmat Allah. Lalu Nabi Musa berkhutbah, “Allah telah menganugerahi kita nikmat yang besar, sebab itu marilah kita bersyukur kepada-Nya. Allah telah memilih Nabi kalian (Musa) dan telah bercakap-cakap dengannya.” Mereka menjawab, “Kami telah tahu hal ini, sekarang kami bertanya, siapakah orang paling ‘alim di muka bumi ini?” Musa menjawab, “Aku!” Maka Allah menegurnya karena tak mengatakan “Allahu a’lam” (Allah yang lebih mengetahui). Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, “Ada seorang hamba yang lebih alim darimu, temuilah ia di pertemuan antara dua lautan, di tepi pantai dekat batu besar!” Berkata Musa, “Ya Rabbi, bagaimana cara saya dapat menjumpainya?” Allah berfirman, “Ambillah seekor ikan dan masukkan ke dalam gentang, bila ikan itu menghilang, maka di sanalah tempatnya.” Pergilah Nabi Musa bersama seorang pemuda menuju tempat dimaksud. Sesampainya di sana, Nabi Musa tertidur sehingga tak sadar jika ikan di gantang telah terjun ke laut. Begitu bangun, mereka melanjutkan perjalanan. Setelah menyadari ikan di gantang telah menghilang, Musa bertanya kepada pengiringnya tentang hal tersebut. Dijawabnya bahwa ikan itu menghilang di tempat Musa tertidur tadi. Maka, kembalilah mereka lalu bertemulah mereka dengan Khaidir.
Khaidir adalah seorang hamba yang dikarunia Allah ilmu ladunny. Menurut HAMKA seorang manusia biasa dimungkinkan mendapat ilmu ladunny melalui proses panjang pensucian jiwa (tazkiyatun nafs). Dari proses tazkiyah tersebut seseorang akan menjadi dekat dengan Allah (muqarribin). Setelah dekat dengan Allah, terpancarlah apa yang oleh orang disebut nur ‘ala nur, sebuah pengetahuan mendalam sebagai karunia langsung dari Allah.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa proses pendidikan haruslah memiliki dimensi pensucian jiwa, jauh dari kesonmbongan dan kemaksiatan sehingga akan melahirkan hati dan pikiran nan bersih. Bila hati dan pikiran telah bersih dari segala hal-hal yang dapat mengotorinya, niscaya bercahayalah ilmu dalam dirinya. Selain itu, bisa dimaklumkan pula bahwa proses pendidikan tidaklah harus melalui bangku sekolah (jalur formal) tetapi bisa juga melalui jalur non-formal. Wallahu a’lam.

6. Q.S. Yusuf: 101

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.”

Makna
Ayat di atas adalah bagian dari penutup surah Yusuf yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf ‘Alaihissalaam mulai dari masa kecilnya yang penuh keharuan, masa mudanya yang penuh ujian, sampai masa akhir hayatnya nan penuh kejayaan.
Ayat ini merupakan ungkapan syukur Nabi Yusuf atas segala nikmat dan pengetahuan (secara khusus pengetahuan menafsirkan mimpi) yang telah dianugerahkan Allah kepadanya sekaligus permohonan agar dimatikan dalam golongan orang-orang Islam dan dikumpulkan kelak di akhirat beserta orang-orang yang shaleh.

BAB III
PENUTUP





Alangkah banyaknya taburan ayat-ayat yang membedah terminologi pendidikan sebagai ta’lim. Kewajiban kita sebagai muslim yang mendapat warisan Al-Qur’an dan As-Sunnah dari Rasulullah SAW untuk senantiasa mengkaji, merenung, dan mengamalkan makna-maknanya.
Berbicara khusus mengenai pendidikan dalam terminologinya sebagai ta’lim. Perlu kiranya lembaga-lembaga pendidikan Islam mengembangkan sebuah sistem atau metode pendidikan yang sesuai dengan nafas Islam, berdasarkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Insya Allah, jika dua pusaka itu kita pegang-teguh dalam usaha melahirkan generasi unggulan, pertolongan dan janji-Nya yang membaiat kita sebagai ummat terbaik di antara manusia akan betul-betul terealisasi di masa depan.


DAFTAR PUSTAKA

Munir, Ahmad. 2003. Tafsir Tarbawi. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press.
Prof. Dr. HAMKA. 1983. Tafsir Al-Azhar Juz II. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Prof. Dr. HAMKA. 1983. Tafsir Al-Azhar Juz V. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Yunus, Mahmud. 2004. Tafsir Qur’an Karim. Jakarta: P.T. Hidakarya Agung.